A. DEMOKRASI
LIBERAL
Demokrasi liberal adalah sistem demokrasi yang
berdasar pada kebebasan individu. Sehingga kepentingan dan hak-hak individu
lebih diutamakan. Sistem liberal bukan berarti bebas melakukan yang ingin
dilakukan. Sistem ini memang menghendaki kebebasan individu diberbagai bidang
seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama. Akan tetapi tetap ada aturannya.
Misalnya dalam beragama, masyarakat dibebaskan untuk beragama dan menjalankan
ibadah sesuai agama yang mereka anut. Sama halnya dalam pemerintahan demokrasi
liberal yang mengutamakan kebebasan individu dan tetap melaksanakan aturan
sesuai hukum maupun norma.
Ciri Ciri Demokrasi
Liberal
1.
Agama adalah urusan
masing masing
2.
Mengutamakan
keperntingan pribadi
3.
Mengutamakan hak
asasi yang berhubungan dengan kebebasan
4.
Memiliki dua
kelompok masyarakat
5.
Pembatasan
kebebasan kepada minoritas
6.
Adanya kekuatan mayoritas
7.
Keputusan diambil
berdasarkan suara terbanyak
8.
Kepentingan
mayoritas diutamakan
9.
Pemerintah tidak
dapat diganggu gugat
1. Demkorasi Liberal Di Indonesia (1950-1959)
Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI
Melaksanakan demokrasi parlementer-liberal dengan mencontoh sistem parlementer
barat dan masa ini disebut Masa Demokrasi Liberal. Indonesia sendiri pada tahun
1950an terbagi menjadi 10 Provinsi yang mempunyai otonomi berdasarkan
Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950) yang juga bernafaskan liberal.
Secara umum, demokrasi liberal adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang berkiblat pada demokrasi. Demokrasi liberal berarti demokrasi yang liberal. Liberal disini dalam artian perwakilan ataurepresentatif. Dengan pelaksanaan konstitusi tersebut, pemerintahan Republik Indonesia dijalankan oleh suatu dewan menteri (kabinet) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen (DPR). Sistem multi partai pada masa demokrasi liberal mendorong untuk lahirnya banyak partai-partai politik dengan ragam ideologi dan tujuan politik.
Demokrasi Liberal sendiri berlangsung selama hampir 9 tahun , dalam kenyataanya bahwa UUDS 1950 dengan sisten Demokrasi Liberal tidak cocok dan tidak sesuai dengan kehidupan politik bangsa Indonesia. Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengumumkan dekrit presiden mengenai pembubaran Dewan Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950 karena dianggap tidak cocok dengan keadaan ketatanegaraan Indonesia.
Secara umum, demokrasi liberal adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang berkiblat pada demokrasi. Demokrasi liberal berarti demokrasi yang liberal. Liberal disini dalam artian perwakilan ataurepresentatif. Dengan pelaksanaan konstitusi tersebut, pemerintahan Republik Indonesia dijalankan oleh suatu dewan menteri (kabinet) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen (DPR). Sistem multi partai pada masa demokrasi liberal mendorong untuk lahirnya banyak partai-partai politik dengan ragam ideologi dan tujuan politik.
Demokrasi Liberal sendiri berlangsung selama hampir 9 tahun , dalam kenyataanya bahwa UUDS 1950 dengan sisten Demokrasi Liberal tidak cocok dan tidak sesuai dengan kehidupan politik bangsa Indonesia. Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengumumkan dekrit presiden mengenai pembubaran Dewan Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950 karena dianggap tidak cocok dengan keadaan ketatanegaraan Indonesia.
Perkembangan Demokrasi Liberal Dalam beberapa Bidang:
1. Kehidupan
Politik Masa Demokrasi Liberal
Menganut sistem multipartai yang
memicu persaingan antarfraksi politik di parlemen untuk saling menjatuhkan.
1.
Sistem
Pemerintahan
1. Presiden
hanya bertugas sebagai kepala negara, bukan sebagai kepala pemeritahan.
2. Kegiatan
pemerintahan dijalankan oleh Menteri.
3. Perdana
menteri dan kabinet bertanggung jawab kepada Parlemen (DPR)
4. Sistem
pemerintahan yang berlaku adalah Parlementer.
2.
Kabinet
1. Kabinet
Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
a) Merupakan
koalisi antara Masyumi dengan Partai Indonesia Raya (PIR), Parindra, Partai
Katolik, Parkindo, dan PSII.
b) Moh.
Natsir à
Perdana Menteri pertama Indonesia, berasal dari Partai Masyumi.
c) Didukung
oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Moh. Roem, Assaat, Djuanda, Soemitro
Djojohadikusumo.
d) Perekonomian
Indonesia mengalami masa paling menguntungkan.Karena berlangsungnya Perang
Korea pada tahun 1950-an yang mendorong naiknya harga komoditas hingga
berdampak pada peningkatan pendapatan ekspor.
e) Kabinet
Natsir mulai goyah ketika Hadikusumo dari PNI mengeluarkan mosi tuntutan agar
pemerintah mencabut PP No. 39 Tahun 1950 tentang pemilihan anggota lembaga
perwakilan daerah.
2. Kabinet
Sukiman (26 April 1951 - 23 Februari 1952)
a) Merupakan
koalisi antara PNI dan Masyumi. Soekarno
menunjuk Sukiman (Masyumi) dan Suwirjo (PNI)
b) Program
Kabinet Sukiman:
1. Menyempurnakan
alat-alat kekuasaan negara.
2. Membuat
dan melaksanakan rencana kemakmuran nasional dalam jangka pendek dan jangka
panjang.
3. Menyelesaikan
persiapan pemilu dan mempercepat pelaksanaan otonomi daerah.
4. Menyiapkan
UU tentang pengakuan serikat buruh.
5. Menjalankan
politik luar negeri bebas aktif.
6. Memasukkan
Irian Barat dalam wilayah RI secepatnya.
c) Keputusan
kontroversial Keputusan Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo menandatangani
perjanjian Mutual Security Act (MSA) dengan
Duta Besar Amerika Serikat, Merle Cochran.
d) Sunario
(PNI) menganggap Ahmad Soebardjo melanggar politik luar negeri bebas aktif.
Akibat mosi tersebut, Ahmad Soebadjo akhirnya mengundurkan diri.
3. Kabinet
Wilopo (30 Maret 1952 - 2 Juni 1953)
a) Merupakan
koalisi antara PNI dan Masyumi.
b) Adanya
penerapan sistem zaken kabinet, yaitu
kabinet yang terdiri atas menteri-menteri yang ahli di bidangnya.
c) Berbagai
permasalahan yang muncul:
1. Krisis
ekonomi karena merosotnya ekspor impor yang semakin tidak terkendali.
2. Muncul
gerakan separatisme dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa.
3. Terjadi
Peristiwa 17 Oktober 1952, yaitu peristiwa perselisihan internal dalam lingkungan
TNI.
4. Kedudukan
Kabinet Wilopo semakin tidak stabil saat terjadi peristiwa Tanjung Morawa.
Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri, Isqak Tjokrodisurjo menyetujui
perusahaan Deli Planters Vereeniging
mengelola tanahnya kembali di Tanjung Morawa. Tetapi atas hasutan PKI, banyak
petani lokal menduduki tanah-tanah tersebut.
4. Kabinet
Ali Sastroamidjojo I (30 Juli 1953 - 24 Juli 1955)
a) Merupakan
koalisi antara PNI dan NU, Masyumi memilih menjadi oposisi.
b) Soekarno
menunjuk Ali Sastroamidjojo (PNI) dan Wongsonegoro (Partai Indonesia Raya)
sebagai perdana menteri dan wakil perdana menteri.
c) Prestasi:
1. Mengadakan
Konferensi Asia Afrika (KAA).
2. Membentuk
panitia pemilu yang diketuai Hadikusumo.
d) Dalam
mengatasi masalah perekonomian, Kabinet Ali berusaha meninjau ulang utang
pemerintah dan cadangan devisa negara dengan cara membatalkan hasil Konferensi
Meja Bundar (KMB) berkaitan utang Indonesia kepada Belanda.
5. Kabinet
Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956)
a) Program
utama kabinet Baharudin Harahap Pemberantasan korupsi yang mendapat
dukungan rakyat dan TNI.
b) Prestasi dari kabinet ini Berhasil
menyelenggarakan pemilu pertama tahun 1955.
Pemilu dilaksanakan 2 tahap:
1. Tahap
pertama (29 September 1955)
diselenggarakan untuk Memilih anggota DPR
(parlemen)
2. Tahap
kedua (15 Desember 1955) diselenggarakan
untuk Memilih anggota Konstituante
6. Kabinet
Ali Sastroamidjojo II (20 Maret 1956 - 14 Maret 1957)
a) Merupakan
koalisi antara PNI, Masyumi, dan NU.
b) Program
kerja:
1. Melaksanakan
pembatalan hasil KMB.
2. Berjuang
mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Indonesia.
3. Memulihkan
keamanan dan ketertiban serta pembangunan ekonomi, keuangan, industri,
perhubungan, pendidikan, dan pertanian.
4. Melaksanakan
hasil keputusan KAA.
5. Mewujudkan
perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
c) Berbagai
permasalahan yang muncul:
1. Sentiment
anti-Tionghoa mulai berkembang dalam masyarakat.
2. Muncul
kekacauan di berbagai daerah yang mengarah pada gerakan separatisme.
3. Perselisihan
antara pengusaha Tionghoa dan pengusaha nasional akibat pembatalan hasil KMB.
d) Akhir
masa Kabinet Ali II disebabkan oleh mundurnya sejumlah menteri.
7. Kabinet
Djuanda (9 April 1957 - 5 Juli 1959)
a) latar belakang dibentuk:
1. Kondisi
politik dan keamanan Indonesia semakin tidak menentu.
2. Pertentangan
parpol semakin memanas.
b) Disebut
juga Kabinet Karya, karena disusun berdasarkan zaken kabinet.
c) Program:
1. Membentuk
Dewan Nasional, yaitu badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan aspirasi
dari kekuatan-kekuatan nonpartai yang ada dalam masyarakat.
2. Normalisasi
situasi RI.
3. Memperjuangkan
pengembalian Irian Barat.
d) Mempercepat
proses pembangunan.
1. Dalam
memimpin pemerintahan, Djuanda dibantu oleh Hardi, K.H. idham Chalid, dan J.
Leimena.
2. Prestasi:
Menentukan garis kontinental batas
wilayah laut Indonesia melalui Deklarasi Djuanda. Akibatnya, tercipta wilayah
daratan dan lautan Indonesia menjadi satu kesatuan bulat dan utuh. Hasil Deklarasi Djuanda
diresmikan menjadi UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia.
e) Menyelenggarakan
Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah.
3.
Sistem
Kepartaian
a) Diawali
dengan Presiden Soekarno mendirikan PNI pada tanggal 23 Agustus 1945.
b) Wapres
Moh. Hatta mengeluarkan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 dan
terbentuklah 10 parpol, yaitu Masyumi, PNI, PSI, PKI, PBI, PRJ, Parkindo, PRS,
Permai, PKRI.
c) Sistem
kepartaian yang dianut adalah sistem multipartai.
4.
Pemilu 1955
a) Dilaksanakan
dalam 2 tahap:
1. Tahap
pertama (29 September 1955) à
Memilih anggota DPR (parlemen)
2. Tahap
kedua (15 Desember 1955) à
Memilih anggota konstituante
b) 5
partai besar pada Pemilu 1955 à
PNI, Masyumi, NU, PKI, PSII.
c) Nilai
positif yang dapat diambil:
1. Tingkat
partisipasi masyarakat tinggi.
2. Jumlah
orang yang tidak memilih (golput) sedikit.
3. Kesadaran
berdemokrasi
5.
Kegagalan
Konstituante Menyusun UUD
a) 10
November 1956 Presiden Soekarno melantik 514 anggota Konstituante.
b) Tugas
badan Konstituante à
Merumuskan UUD baru
c) Masalah
utama yang dihadapi à
Penetapan Dasar Negara
d) Kegagalah
Konstituante disebabkan oleh:
1. Perdebatan
yang berlarut-larut.
2. Adanya
perselisihan antarpartai.
3. Munculnya
desakan untuk kembali pada UUD 1945.
e) 30
Mei 1959 Konstituante mengadakan pemungutan suara dan hasilnya mayoritas
menghendaki kembali pada UUD 1945.
f) Kedudukan
Konstituante terdesak ketika A.H. Nasution mengeluarkan PEPERPU/040/1959 yang
berisi larangan adanya kegiatan politik.
g) Konstituante
dibubarkan pada 5 Juli 1959 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
2. Kehidupan
Ekonomi Masa Demokrasi Liberal
a)
Permasalahan
Ekonomi Pada Masa Demokrasi Liberal:
1. Permasalahan
jangka pendek, yaitu pemerintah harus mengurangi jumlah uang yang beredar dan
mengatasi kenaikan biaya hidup.
2. Permasalahn
jangka panjang, yaitu pertambahan penduduk yang tidak terkendali dan tingkat
kesejahteraan penduduk yang rendah.
b)
Kebijakan
Pemerintah Untuk Mengatasi Permasalahan Ekonomi
1) Gerakan
Benteng
a. Dicetuskan
oleh Soemitro Djojohadikusumo.
b. Kebijakan
dimulai pada April 1950, yaitu:
1. Memberikan
bantuan kepada pengusaha Pribumi agar mereka ikut berpartisipasi dalam
pembangunan ekonomi nasional. Bantuan tersebut berupa bimbingan konkret atau
bantuan kredit.
2. Membangun
kewirausahaan Pribumi agar mampu membentengi perekonomian Indonesia yang baru
merdeka.
2) Gunting
Syafruddin
a. Dicetuskan
oleh Syafruddin Prawiranegara.
b. Kebijakan ini dimulai pada 15 Maret
1950 berupa Pemotongan nilai uang
(senering) yang bernilai Rp2,5 ke atas hingga nilai setengahnya.
3) Nasionalisasi
De Javasche Bank
a. Kebijakan
yang dilakukan yaitu, Perubahan status De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia
sebagai Bank Sentral dan Banks Sirkulasi. Diumumkan pada 15 Desember 1951
berdasarkan UU No. 24 Tahun 1951.
4) Pembentukan
Biro Perancang Negara
a. Dibentuk
pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo I.
b. Bertugas
merancang pembangunan jangka pendek sehingga hasilnya belum bia dirasakan oleh
masyarakat.
c. Akibat
tidak adanya stabilitas politik (masa kabinet terlalu singkat) menyebabkan
kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan.
5) Sistem
Ekonomi Ali-Baba
a. Diprakarsai
oleh Isqak Tjokroadisurjo (Menteri Perekonomian pada masa Kabinet Ali
Sastroamidjojo I)
b. Kebijakan
yang dilakukan, yaitu: Mendorong berkembangnya pengusaha swasta nasional
pribumi dalam usaha merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
c. Langkah
yang diambil:
1. Mewajibkan
pengusaha asing yang beroperasi di Indonesia untuk memberikan pelatihan dan tanggung
jawab kepada TKI agar dapat menduduki jabatan staf.
2. Mendirikan
perusahaan negara.
3. Menyediakan
kredit.
4. Memberikan
lisensi bagi perusahaan swasta nasional.
3.
Kehidupan Sosial
Masa Demokrasi Liberal
Pada
masa ini taraf hidup masyarakat semakin naik daripada di masa revolusi.
Indikatornya adalah jumlah penduduk bertambah, kesejahteraan meningkat, dan
kota-kota semakin berkembang.
A.
Kondisi Demografi
Salah
satu indikator kemajuan pada masa demokrasi liberal adalah pertambahan
penduduk.
a)
Pertumbuhan Penduduk
Nasional
Pada tahun 1950
pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 77 juta jiwa dan pada tahun 1955
pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 85,4 juta jiwa.
b)
Pertumbuhan
Penduduk Perkotaan (Jakarta)
Pada Tahun 1950
Pertumbuhan penduduk Jakarta berjumlah 1,8 juta jiwa dan pada tahun 1960
Pertumbuhan penduduk Jakarta Mencapai 2,9 juta Jiwa.
c)
Jumlah Buta Huruf
Jumlah Buta Huruf
Di Indonesia pada masa kolonial Mencapai 92,6 persen dan pada tahun 1960 Jumlah
Buta Huruf di Indonesia Turun Menjadi 24 persen.
d)
Antusias Rakyat
Indonesia Dalam Politik
Sebelum
pemilu tahun 1955, pemimpin negara seperti Presiden Soekarno dan Moh. Hatta
sering memberikan pematangan berpolitik kepada masyarakat. Menjelang pemilu,
panitia terus memberikan pengetahuan pada masyarakat bagaimana cara menyalurkan
suara kepada masyarakat. Sosialisasi terus dilancarkan kepada masyarakat baik
itu melalui surat kabar dan mobil-mobil kampanye dan lain sebagainya. Partai
politikpun tidak saling menyerang, bahkan tokoh-tokoh politik bersedia menemui
langsung masyarakat. Hingga pada pelaksanaan pemilu berlangsung secara
demokratis karena antusiasme masyarakat menyalurkan hak pilihnya tanpa
intervensi.
4.
Kehidupan
Pendidikan Masa Demokrasi Liberal
a)
Sistem pendidikan
Pada
masa demokrasi liberal sistem pendidikan yang dilaksanakan adalah dengan sistem
desentralisasi yang mana SD dan SMP menjadi urusan pemerintah daerah (provinsi)
dengan supervisi dari pemerintah pusat. Sedangkan untuk SMA ditanggung oleh
pemerintah baik masalah keuangan maupun mata pelajaran. Namun, perhatian
terhadap pendidikan dirasa masih kuang karena anggaran yang diglontorkan dari
APBN masih cukup sedikit yaitu 5,1% APBN pada tahun 1950 dan masih kalah pada
masa kolonial Belanda yang mencapai kisaran 9,3%.
b)
Perguruan Tinggi
Pendidikan
tinggi menjadi fokus utama pemerintah untuk membentuk generasi bangsa yang
kompeten. Atas dasar tersebut menteri pendidikan Abu Hanifah menetapkan bahwa
setiap provinsi memiliki satu universitas negeri. Sehingga pada tanggal 19
Desember 1949 didirikan universitas Gajah Mada. Selanjutnya berdiri
Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran,
Universitas Hassanuddin, dan Universitas Sumatra Utara.
5.
Kehidupan Budaya
a)
Penyempurnaan Ejaan
Bahasa Indonesia
Pada
tahun 1954 pemerintah mengeluarkan gagasan untuk menyemurnakan ejaan Bahasa
Indonesia. Pada tanggal 28 Oktober-2 November 1954 pemerintah mengadakan
Kongres Bahasa Indonesia di Medan. Hasil keputusannya adalah agar usaha
penyelidikan dan penetapan dasar-dasar ejaan diserahkan kepada suatu badan
pemerintah yang bertugas menyusun ejaan praktis Indonesia. Hingga dibentuklah
Panitia Pembahasan Ejaan Bahasa Indonesia melalui surat keputusan menteri PP
dan K No. 448/S tanggal 19 Juli 1956. Panitia tersebut dipimpin oleh Prof. Dr.
Prijono.
b)
Perkembangan Sastra
Pada masa demorasi liberal, mulai muncul beberapa
sastrawan lokal seperti Sitor Situmorang dan Pramoedya Ananta Toer yang
memengaruhi perkembangan karya di Indonesia. Peran mereka mampu menggeser peran
sastrawan asing yang digandrungi masyarakat. Para sastrawan pada saat itu
menjalankan fungsinya dengan menangkap berbagai masalah kemanusian dibalik
peristiwa getir akibat perang. Para sastrawan tidak hanya dipengaruhi oleh gaya
eropa tetapi juga gaya melayu seperti Amir Hamzaah, gaya Sunda seperti Ajip
Rosidi, Rusman Sutiasumarga, dan Ramadhan K.H , dan gaya Jawa antara lain W.S.
Rendra, Kirdjomuljo, dan Soeripman.
6.
Akhir Masa
Demokrasi Liberal di Indonesia
Kekacauan
politik yang timbul karena pertikaian partai politik di Parlemen menyebabkan
sering jatuh bangunnya kabinet sehinggi menghambat pembangunan. Hal ini
diperparah dengan Dewan Konstituante yang mengalami kebuntuan dalam menyusun
konstitusi baru, sehingga Negara Indinesia tidak memiliki pijakan hukum yang
mantap. Kegagalan konstituante disebabkan karena masing-masing partai hanya
mengejar kepentingan partainya saja tanpa mengutamakan kepentingan negara dan
Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kegagalan konstituante disebabkan karena
masing-masing partai hanya mengejar kepentingan partainya saja tanpa
mengutamakan kepentingan negara dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Masalah utama yang dihadapi konstituante adalah tentang penetapan dasar negara.
Terjadi tarik-ulur di antara golongan-golongan dalam konstituante. Sekelompok
partai menghendaki agar Pancasila menjadi dasar negara, namun sekelompok partai
lainnya menghendaki agama Islam sebagai dasar negara.
Dalam
situasi dan kondisi seperti itu, beberapa partai politik mengajukan usul kepada
Presiden Soekarno agar mengambil kebijakan untuk mengatasi kemelut politik.
Oleh karena itu pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit
yang berisi sebagai berikut:
a)
Pembubaran
Konstituate
b)
Berlakunya Kembali
UUD 1945
c)
Tidak berlakunya
UUDS 1950
d)
Pembentukan MPRS
dan DPAS
Setelah
keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan tidak diberlakukannya lagi UUDS 1950,
maka secara otomatis sistem pemerintahan Demokrasi Liberal tidak berlaku lagi
di Indonesia dan mulainya sistem Presidensil dengan Demokrasi Terpimpin ala
Soekarno.
7. Kelebihan Dan Kekurangan Demokrasi Liberal Di Indonesia:
a) Kelebihan Demokrasi Liberal
1. Kekuasaan Eksekutif yang dibatasi dengan peraturan
perundang undangan
2. Kurangnya penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah karena
kekuasaan terfokus kepada parlementer
3. HAM dipegang teguh dan dijunjung tinggi oleh negara
b) Kekurangan Demokrasi Liberal
1. Tidak fokus terhadap rencana jangka panjang suatu
pemerintahan
2. Terdapat golongan mayoritas dan minoritas
3. Multipartai yang mengakibatkan aspirasi yang belum
tersalurkan seluruhnya dengan baik.
4. Kebebasan mengeluarkan pendapat yang terlalu bebas
sehingga tidak ada penanggung jawabnya
B. DEMOKRASI
TERPIMPIN
Demokrasi Terpimpin adalah suatu sistem pemerintahan dimana
segala kebijakan atau keputusan yang diambil dan dijalankan berpusat kepada
satu orang, yaitu pemimpin pemerintahan. Sistem pemerintahan ini dikenal juga dengan
istilah ‘terkelola’ yaitu suatu pemerintahan demokrasi dengan peningkatan
otokrasi. Dengan kata lain, negara yang menganut sistem demokrasi terpimpin
adalah dibawah pemerintahan penguasa tunggal. Pada pelaksanaan sistem pemerintahan ini, warga
negara atau rakyat tidak memiliki peran yang signifikan terhadap segala
kebijakan yang diambil dan dijalankan oleh pemerintah melalui efektivitas
teknik kinerja humas yang berkelanjutan.
Ciri Ciri Demokrasi
Terpimpin:
1.
Kekuasaan Berpusat pada presiden
2.
Peran Partai Politik Terbatas
3.
Peran Militer Semakin besar
4.
Paham komunis Berkembang
5.
Anti Kebebasan Pers
6.
Sentralisasi Pemerintahan Pusat
7.
Banyaknya Pelanggaran HAM
2.
Demokrasi Terpimpin Di Indonesia (1959 - 1965)
Demokrasi
Terpimpin di Indonesia dimulai dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli
1959 oleh Presiden Soekarno. Dekrit Presiden Pada Tahun 1959 menandakan era baru yang mana Indonesia
meninggalkan Demokrasi Liberal berganti dengan Demokrasi Terpimpin. Demokrasi
Terpimpin diartikan sebagai demokrasi yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan. Pada prakteknya pengertian Demokrasi Terpimpin
lebih cenderung kepada Demokrasi yang dipimpin oleh presiden sebagai Panglima
Besar Revolusi.
Perkembangan Demokrasi Terpimpin Dalam Beberapa bidang:
1. Kehidupan
Politik Masa Demokrasi Terpimpin
a.
Dekrit
Presiden 5 Juli 1959
Merupakan jembatan politik dari era
Demokrasi Liberal menuju era Demokrasi Terpimpin.
Latar belakang:
1. Pemberlakuan
Sistem Demokrasi Terpimpin. Dilakukan untuk memperbarui struktur politik
Indonesia.
2. Pembentukan
Kabinet Gotng Royong.
3. Isi
Dekrit Presiden 5 Juli 1959:
a. Pembubaran
Konstituante.
b. Tidak
berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945.
c. Pembentukan
MPR yang terdiri atas DPR dan DPAS.
b.
Sistem
Pemerintahan dan Konsep Politik
1. Sistem
pemerintahan yang berlaku adalah Presidensial.
2. Presiden
berkedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan serta tidak
bertanggung jawab kepada parlemen (DPR).
3. Dalam
menjalankan pemerintahan, Presiden mendapat dukungan dari 3 kekuatan besar,
yaitu Nasionalis, Agama, Komunis (NASAKOM). Hal ini memberi peluang bagi
berkembangnya ideologi komunis.
4. Presiden
Soekarno mencetuskan:
a. Ajaran
NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis)
1. Ajaran
ini dimanfaatkan oleh PKI untuk menyebarkan ideologi komunis.
2. Ketua
PKI, D.N. Aidit berusaha menyebarkan cuplikan-cuplikan pidato Presiden Soekarno
sehingga seolah-olah sejalan dengan gagasan dan cita-cita politik PKI.
b. Ajaran
RESOPIM (Revolusi, Sosialisme Indonesia, dan Pimpinan Nasional)
1. Tujuan
Memperkuat kedudukan Soekarno.
2. Inti
ajaran Seluruh
unsur kehidupan berbangsa dan bernegara harus dicapai melalui revolusi, dijiwai
oleh sosialisme, dan dikendalikan oleh satu pimpinan nasional yang disebut
Panglima Besar Revolusi (PBR), yaitu Presiden Soekarno.
3. Dampak
Kedudukan lembaga tinggi dan tertinggi negara ditetapkan di bawah Presiden.
c.
Politik Luar
Negeri
Sejak proklamasi kemerdekaan
politik luar negeri Indonesia adalah Bebas Aktif. Akan tetapi dalam Demokrasi
Terpimpin politik luar negeri Indonesia mengalami penyimpangan. Dalam
Manipol-USDEK ditegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia bertujuan
melenyapkan imperialisme dan mencapai dasar-dasar bagi perdamaian dunia yang
kekal dan abadi.
1) Politik
Konfrontasi Nefo dan Oldefo
Presiden Soekarno memperkenalkan
doktrin politik baru yang membagi dunia menjadi 2 blok, yaitu New Emerging Forces (Nefo) dan Old Established Forces (Oldefo).
a. Nefo Negara-negara yang
sedang berkembang dan negara sosialis yang dianggap progresif, termasuk juga
negara yang baru merdeka atau sedang memperjuangkan kemerdekaanya.
b. Oldefo Negara kolonialis, imperialis, dan penghampat
kemajuan bangsa-bangsa yang sedang berkembang.
2) Politik
Mercusuar
Adalah politik untuk mencari
kemegahan/keindahan dalam pergaulan antarbangsa di dunia. Politik mercusuar
dijalankan Presiden Soekarno karena menganggap Indonesia sebagai mercusuar yang
mampu menerangi jalan negara-negara Nefo. Hal ini diwujudkan dengan:
a. Membuat
bangunan-banguna fenomenal yang menelan biaya miliaran rupiah,
b. Menyelenggarakan
Games of the New Emerging Forces
(Ganefo), yaitu pesta olahraga negara-negara Nefo.
3) Konfrontasi
dengan Malaysia
Perselisihan Indonesia-Malaysia
berawal pada 27 Mei 1961, Perdana Menteri Malaya, Tengku Abdulrachman Putu,
melontarkan ide gagasan pembentukan Federasi Malaysia. Feredasi ini meliputi,
Malaya, Singapura, Serawak, dan Sabah.gagasan tersebut kemudian diusulkan
kepada Perdana Menteri Inggris, Harold Mc Millan pada Oktober 1961. Pemerintah Indonesia
menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai proyek neokolonialisme
Inggris. Proyek ini dianggap membahayakn Indonesia dan negara-negara Nefo.
Kebijakan Presiden Soekarno:
a) Mengumukan
Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964, yang isinya:
1. Perhebat
ketahanan Revolusi Indonesia
2. Bantu
perjuangan rakyat Malaysia untuk membebaskan diri dari Nekolim Inggris.
b) Membentuk
Komando Operasi Tertinggi (Koti) dan Komando Mandala dengan tugas
menyelenggarakan operasi militer dalam rangka mempertahankan kedaulatan wilayah
Indonesia.
4) Indonesia
Keluar dari PBB
Pada 7 Januari 1965, Indonesia
keluar dari PBB Sebab:
a) PBB
menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
b) PBB
tidak merombak struktur organisasi PBB.
Dampak:
a) Sebagian
besar negara Asia dan Afrika mengecam tindakan Indonesia.
b) Indonesia
kehilangan satu forum untuk menyelesaikan sengketa dengan Malaysia secara
damai.
d.
Pembebasan
Irian Barat
1. Latar
Belakang: Bangsa Indonesia
kecewa atas keputusan hasil KMB bahwa masalah Irian Barat akan diselesaikan
satu tahun setelah penyerahan kedaulatan.
2. Perjuangan
Pembebasan Irian Barat
1) Perjuangan
Diplomasi
Pemerintah Indonesia mengirim para
diplomat untuk memperjuangkan Irian Barat melalui forum internasional. Para
diplomat: Soebandrio, Mukarto Notowidagdo, Zairin Zain, Adam Malik, Ganis
Harsono, Alex Alatas, dan A.H. Nasution.
Beberapa upaya yang dilakukan:
a) Konferensi
Colombo pada April 1954.
b) Konferensi
Asia Afrika pada April 1955.
c) Siding
Umum PBB pada 1954-1957.
2) Konfrontasi
Politik
a. Pada
1956 Indonesia secara sepihak membatalkan hasil KMB yang dikukuhkan dalam UU
No. 13 Tahun 1956.
b. Pada
17 Agustus 1956, Kabinet Ali Sastroamidjojo membentuk pemerintahan sementara
Irian Barat. Tujuannya untuk mendeklarasikan pembentukan Provinsi Irian Barat
sebagai bagian dari RI.
3) Konfrontasi
Ekonomi Dilakukan
dengan:
a. Pembatalan
utang-utang Indonesia kepada Belanda senilai F 3.661 juta.
b. Melarang
maskapai penerbangan Belanda melakukan penerbangan dan pendaratan di wilayah
Indonesia.
c. Memberhentikan
semua perwakilan konsuler Belanda di Indonesia mulai tanggal 5 Desember 1957.
d. Melakukan
nasionalisasi perusahaan Belanda di Indonesia sejak Desember 1958.
4) Konfrontasi
Militer
a. Pada
19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di
Yogyakarta pada acara peringatan Agresi Militer II Belanda.
b. Isi
Trikora:
1. Gagalkan
pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda.
2. Kibarkan
Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia
3. Melaksanakan
mobilisasi umum.
c. Pada
15 januari 1962, terjadi pertempuran di Laut Aru antara kapal jenis motor torpedo boat (MTB) ALRI dengan dua
kapal perusak Belanda.
Gambar Operasi
Trikora:


d. Persetujuan
New York
Ellsworth Bunker (penengah
konfrontasi Indonesia-Belanda, dari Amerika Serikat) mengusulkan:
a. Agar
Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dengan perantara PBB yaitu United Nation Temporary Executive Authority (UNTEA)
dalam jangka waktu 2 tahun.
b. Agar
rakyat Irian Barat diberi kesempatan menentukan pendapatnya agar tetap berada
dalam wilayah RI atau memisahkan diri.
a. Ellsworth
Bunker mengajak Indonesia-Belanda bertemu dalam meja perundingan. Delegasi
Indonesia (Adam Malik) dan Delegasi Belanda (Dr. Van Royen).
b. Isi
Persetujuan New York à
Selambat-lambatnya tanggal 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan Irian Barat
kepada United Nation Temporary Executive
Authority (UNTEA).
c. Pada
31 Desember 1962 bendera Indonesia mulai berkibar di samping bendera PBB dan
selambat-lambatnya tanggal 1 Mei 1963 UNTEA atas nama PBB menyerahkan Irian
Barat kepada Indonesia.
d. Setelah
penyerahan Irian Barat, pemerintah Indonesia diwajibkan melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).
Pelaksanaan Penentuan Pendapat
Rakyat (Pepera) Act of free choice Dilaksanakan sejak 14
Juli 1969 s.d. 4 Agustus 1969. Pelaksanaan diatur oleh Brigjen Sarwo Edhie
Wibowo dan diawasi langsung oleh perwakilan PBB yaitu Fernando Ortis Sanz.
Dewan musyawarah Pepera memutuskan
bahwa Irian Barat tetap merupakan bagian dari RI.
2. Kehidupan
Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin
Kekacauan politik ditandai dengan
terjadinya Inflasi. Kehidupan ekonomi merosot. Kebijakan Pemerintah
untuk Mengatasi Permaslahan Ekonomi
a)
Membentuk
Dewan Perancang Nasional (Depernas)
1. Dibentuk
berdasarkan UU No. 80 tahun 1958 Pemimpin Muh. Yamin
2. Tugas Mempersiapkan rancangan
UU pembangunan nasional dan menilai penyelenggaraan pembangunan.
3. Pada
1963, berganti nama menjadi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
yang dipimpin Presiden Soekarno.
b)
Menerapkan
Kebijakan Devaluasi Mata Uang Rupiah
1. Ditetapkan
pada 24 Agustus 1959
2. Tujuan
Meningkatkan nilai rupiah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil.
3. Usaha Pemerintah melakukan pembekuan terhadap semua
simpanan yang melebihi Rp25.000,00.
4. Dilaksanakan
oleh Panitia Penampung Operasi Keuangan (PPOK)
c)
Menekan
Laju Inflasi
1. Pada
25 Agustus 1959, pemerintah mengeluarkan Perppu No. 2 Tahun 1959 untuk
membendung laju inflasi.
2. Tujuan Mengurangi jumlah uang yang beredar agar dapat
menstabilkan keuangan dan perekonomian negara.
3. Usaha Pemerintah menginstruksikan penghematan bagi
instansi pemerintah, memperketat pengawasan atas perusahaan-perusahaan negara.
d) Deklarasi Ekonomi (Dekon)
1. Pada
28 Maret 1963, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekon.
2. Tujuan:
a. Menciptakan
ekonomi yang bersifat nasional, demokratis, dan bebas dari sisa-sisa
imperialisme.
b. Mencapai
tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin.
e)
Dana
Revolusi
1. Dikeluarkan
oleh Jusuf Muda
2. Diperoleh
dari devisa kredit jangka panjang
3. Usaha melakukan pungutan
terhadap perusahaan atau perseorangan yang mendapat fasilitas kredit antara 250
juta hingga 1 miliar rupiah.
4. Hasil
pengumpulan Dana Revolusi digunakan untuk membiayai proyek-proyek mandataris
presiden yang bersifat prestise politik dengan mengorbankan kondisi ekonomi
dalam negeri.
3.
Kehidupan Sosial
Masa Demokrasi Terpimpin
1.
Komunikasi Massa
Surat
kabar dan majalah yang tidak seirama dengan Demokrasi Terpimpin, harus
menyingkir dan tersingkir. Persyaratan untuk mendapatkan Surat Ijin Terbit dan
Surat Ijin Cetak (SIT) diperketat. Sejak tahun 1960, semua penerbit wajib
mengajukan permohonan SIT dengan dicantumkan 19 pasal yang mengandung
pertanggungjawaban surat kabar/majalah tersebut. Pedoman resmi untuk penerbitan surat kabar dan
majalah diseluruh Indonesia, dikeluarkan pada tanggal 12 Oktober 1960 yang
ditanda tangani oleh Ir. Juanda selaku Pejabat Presiden. Pedoman yang berisi 19
pasal tersebut mudah digunakan penguasa untuk menindak surat kabar/majalah yang
tidak disenangi. Maka satu demi satu penerbit yang menentang dominasi PKi di
cabut SITnya. Yakni, Harian Pedoman, Nusantara, Keng Po, Pos Indonesia, Star
Weekly dan sebagainya. Surat kabar Abadi lebih memilih menghentikan penerbitan
daripada menandatangani persyaratan 19 pasal itu. Dengan semakin sedikitnya
pers Pancasila yangb masih hidup, dapat digambarkan betapa merajalelanya Surat
Kabar PKI seperti Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Warta Bhakti.
2.
Pendidikan
Murid-murid sekolah lanjutan pertama dan tingkat atas
pada tahun 1950-an jumlahnya melimpah dan berharap menjadi mahasiswa. Mereka
ini adalah produk pertama dari system pendidikan setelah kemerdekaan.
Universitas baru didirikan di ibukota propinsi dan jumlah fakultas ditambah
meskipun kekurangan tenaga pengajar. Perguruan tinggi swasta semakin banyak
terutama tahun 1960. Eksplosi pendidikan tinggi ini disebabkan meluasnya
aspirasi untuk menjadi mahasiswa. Untuk memenuhi keinginan golongan islam
didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Sedangkan umat Kristen dan
katolik didirikan sekolah Tinggi Theologia serta seminari-seminari. Sistem
penerimaan mahasiswa yang mudah dan pembebasan biaya kuliah menyebabkan
peningkatan jumlah mahasiswa besar-besaran. Penambahan mahasiswa mencapai
seratus ribu dengan perguruan tinggi 181 buah pada tahun 1961. Sejak tahun 1962 sistem pendidikan SMP dan SMA
mengalami perubahan dalam kurikulum SMP baru di tambahkan mata pelajaran ilmu
administrasi dan kesejahteraan masyarakat. Sistem pendidikan SMA di lakukan
penjurusan mulai kelas II jurusan di bagi menjadi kelas budaya, soiial, ilmu
pasti dan alam. Melihat pembagian di SMA seperti itu menunjukkan mereka
dipersiapkan untuk memasuki peguruan tinggi.
4.
Kehidupan Budaya
Masa Demokrasi Terpimpin
Sesuai dengan
semboyan PKI “ politik adalah panglima” maka seluruh kehidupan masyarakat
diusahakan untuk berada di bawah dominasi politiknya. Kampus diperpolitikkan
mahasiswa yang tidak mau ikut dalam rapat umumnya, appel-appel besarnya dan
demonstrasi-demonstrasi revolusionernya di caci maki dan dirongrong oleh unsur
Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) atau satelit-satelitnya.
Wartawan yang ikut BPS dimaki-maki sebagai antek Nekolim atau agen CIA. Bahkan
para budayawan maupun seniman juga tak luput dari raihan tangan mereka. Realisme sosialis sebagai doktrin komunis dibidang seni dan
sastra diusahakan untuk menjadi doktrin di Indonesia juga. Akan tetapi
pelaksanaan doktrin tersebut lebih represif dari pada persuasive seperti adanya
larangan bagi pemusik-pemusik pop untuk memainkan lagu-lagu ala imperialis
barat. Peristiwa yang paling diingat oleh masyarakat pada bidang budaya adalah
heboh mengenai Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia
(KKPI). PKI tidak serta merta menyerang manifes tersebut akan tetapi berselang
4 bulan setelah kemunculannya baru mulai angkat senjata. Hal ini terjadi karena
para sastrawan Pancasilais baik yang mendukung manifes kebudayaan maupun tidak
sedang menyiapkan rencana untuk menyelenggarakan Konferensi Karyawan Pengarang
Indonesia (KKPI). PKI menganggap bahwa sebuah manifest saja bukanlah
ancaman bagi mereka akan tetapi suatu pengelompokan yang terorganisasi
merupakan bahaya yang harus segera ditumpas sebelum berkembang lebih besar. Setelah
kemunculan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI) barulah PKI mulai
mengadakan kampanye untuk mengidentifikasi KKPI dan PKPI dengan manifest
kebudayaan untuk sama-sama dihancurkan. Serangan terhadap manifest kebudayaan
terus dilancarkan melalui tulisan yang semakin tajam dalam Harian Rakyat,
Bintang Timur dan Zaman Baru. PKI menganggap manifest kebudayaan sebagai bentuk
penyelewengan dari revolusi Indonesia yang berporos pada soko guru tani, buruh
dan prajurit. Di lain sisi PKI mendukung penuh gagasan manifest politik karena
dalam ide-ide tersebut terdapat penyesuaian gagasan sikap politik budaya dari
perjuangan komunisme. Manifes kebudayaan dianggap mengesampingkan manifest
politik karena memisahkan antara politik dan kebudayaan. Propaganda PKI yang
hebat sedikit banyak telah mempengaruhi massa, serangan-serangan terhadap
pendukung manifest kebudayaan dan KKPI tidak ada hentinya dalam harian, pidato,
tokoh-tokoh PKI maupun aksi politik. Serangan lewat media mass media, aksi
turun kejalanberdemonstrasi dilakukan oleh penyokong PKI. Aksi-aksi tersebut
mengundang presiden Soekarno sehingga pada ulang tahun Departemen Perguruan
Tinggi dan ILmu Pengetahuan (PTIP) yang ke-3 menyampaikan pidato yang mendesak
mahasiswa revolusioner dan molotan untuk menggeser guru-guru besar dan sarjana
anti manifest politik. Pada
tanggal 27 Agustus-2 September 1964 PKI mengadakan Konferensi Nasional Sastra
dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. KSSR ini dimaksudkan untuk menandingi
KKPI yang diadakan bulan Maret. KSSR mau membuktikan bahwa suasana kebudayaan
berada dibawah kekuasaaan PKI. Dengan demikian berhasilllah PKI memukul
manifest kebudayaan akan tetapi PKPI tidak dapat mereka hancurkan. Benteng
Pancasila tidak dapat ditaklukkan oleh PKI selain itu para sastrawan Indonesia
mendapatkan pelajaran berharga bahwa untuk menghadapi komunisme diperlukan juga
senjata berupa organisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar